Hari Guru Nasional sebentar lagi digelar. Perhelatan akbar
ini banyak yang menunggu. Baik untuk dimeriahkan ada pula yang ingin
memanfaatkan. Menghadirinya suatu kebanggaan tersendiri dan memberikan rasa
kepuasan yang tak dapat dilukiskan. Bagi guru ini adalah moment yang memberi
makna dimensi sebagai ajang Silaturahiim Guru Nasional (SGN). Event ini ada
juga yang ingin memanfaatkan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk
misi-misi kelompok. Di sini nuansa politik sanHGN, IGI dan PGRIgat terasa. Hal ini memang susah
dihindari; karena guru memiliki potensi massa yang sangat besar dan real baik
untuk diarahkan pada pemenuhan kebutuhan politik ataupun kebutuhan lain yang dapat
menguntungkan salah satu individu atau kelompok.
HGN memang harus diarahkan pada event untuk dinikmati dan
dirasakan oleh semua insan guru yang memiliki nilai sakral yang dapat menjadi
kebanggaan bersama oleh semua guru dari berbagai Organisasi Profesi Guru.
Ketua Umum IGI Pusat, Muhammad Ramli Rahim, menghendaki agar
HGN harus kembali menjadi wadah mendorong semangat guru menjadi lebih bermutu,
bukan sekedar show power untuk berpolitik dalam pendidikan.
Hari Guru Nasional memang event untuk semua guru
di seluruh Nusantara. Pemerintah secara resmi telah menyelenggarakan Hari Guru
Nasional pisah dengan HUT PGRI. Penyelenggaraan HGN pertama dipisah dari HUT
PGRI mulai pada tanggal 24 November 2015. Kepres 78/1994 menjadi dasar
penyelenggaraan HGN, walaupun sebelumnya penyelenggaraannya disatukan dengan
HUT PGRI.
No comments:
Post a Comment